Bandung (27-07-2026) – Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di sekolah kini tidak lagi hanya berorientasi pada kemampuan fisik peserta didik. Seiring diterapkannya Kurikulum Merdeka, pembelajaran PJOK mengalami perubahan yang menekankan pengembangan karakter, kesehatan, keterampilan sosial, serta potensi setiap siswa melalui proses belajar yang lebih inklusif dan berpusat pada peserta didik.
Perubahan tersebut menjadi pembahasan dalam podcast Hiro Entertainment di YouTube yang berjudul Transisi Pembelajaran PJOK : dari Fisik ke Pembentukan Karakter turut menghadirkan guru PJOK Amin Munawar dan akademisi Rizki Zainal Mustofa. Dalam diskusi tersebut, membahas bagaimana karakter pembelajaran PJOK telah berubah dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Mereka menilai bahwa perkembangan kurikulum membawa perubahan besar terhadap cara guru mengajar, sistem penilaian, hingga tujuan pembelajaran olahraga di sekolah.
Amin Munawar menjelaskan bahwa selama menjadi guru PJOK dirinya telah mengalami berbagai perubahan kurikulum yang diterapkan pemerintah. Setiap pergantian kurikulum menghadirkan kebijakan baru yang menyesuaikan kebutuhan pendidikan pada masanya. Menurutnya, perubahan tersebut membuat guru dituntut untuk terus beradaptasi agar pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan peserta didik dan dunia pendidikan.
Di sisi lain, Rizki Zainal Mustofa membagikan pengalamannya ketika masih menjadi siswa. Ia mengungkapkan bahwa pembelajaran PJOK pada masa itu lebih banyak berisi teori dibandingkan praktik olahraga. Padahal, sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah dinilai cukup memadai. Akibatnya, pelajaran PJOK tidak memberikan pengalaman belajar yang maksimal bagi siswa karena kesempatan untuk melakukan aktivitas olahraga secara langsung masih terbatas.
Menanggapi pengalaman tersebut, Amin menjelaskan bahwa kondisi pembelajaran pada masa lalu dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya jumlah guru olahraga yang saat itu masih terbatas. Berbeda dengan kondisi sekarang, jumlah lulusan pendidikan olahraga terus meningkat sehingga kualitas tenaga pendidik menjadi lebih baik. Hal tersebut turut mendorong peningkatan mutu pembelajaran PJOK di berbagai sekolah.
Selain perubahan jumlah tenaga pendidik, paradigma masyarakat terhadap PJOK juga mengalami perkembangan. Jika dahulu mata pelajaran ini identik dengan siswa yang memiliki tubuh kuat dan kemampuan olahraga yang baik, kini tujuan pembelajaran telah diperluas. PJOK tidak hanya mengajarkan teknik olahraga, tetapi juga membangun kebiasaan hidup sehat, sportivitas, kerja sama, disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan menghargai orang lain. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik sejak usia sekolah.
Perubahan paling mencolok terlihat pada sistem asesmen atau penilaian. Dalam Kurikulum Merdeka, guru tidak lagi hanya menilai hasil praktik olahraga maupun kemampuan fisik siswa. Penilaian dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek pengetahuan, sikap, keterampilan, perkembangan individu, serta kondisi masing-masing peserta didik. Dengan sistem tersebut, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh hasil belajar yang baik sesuai dengan kemampuan dan proses belajarnya.
“Standar penilaian tersebut disesuaikan dengan kondisi peserta didik,” ujar Amin Munawar saat menjelaskan sistem asesmen dalam Kurikulum Merdeka.
Menurut Amin, perubahan sistem penilaian tersebut juga bertujuan agar pembelajaran olahraga dapat diikuti oleh seluruh peserta didik tanpa terkecuali. Guru kini dituntut memahami kondisi setiap siswa sebelum menyusun tujuan pembelajaran. Pendekatan tersebut membuat proses belajar menjadi lebih adil karena mempertimbangkan kemampuan awal, kebutuhan belajar, hingga kondisi fisik masing-masing peserta didik.
Tidak hanya itu, pembelajaran PJOK saat ini juga memberikan gambaran yang lebih luas mengenai dunia olahraga. Peserta didik tidak hanya diarahkan untuk menjadi atlet, tetapi juga dikenalkan pada berbagai profesi seperti pelatih, wasit, manajer tim, penyelenggara pertandingan, hingga pengelola industri olahraga. Dengan demikian, siswa memperoleh pemahaman bahwa olahraga memiliki banyak peluang karier yang dapat dikembangkan sesuai minat dan bakat mereka.
Kurikulum Merdeka juga mendorong penerapan pendidikan yang inklusif. Guru diharapkan mampu melakukan identifikasi terhadap kemampuan setiap peserta didik sehingga proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan yang sama bagi siswa berkebutuhan khusus maupun yang memiliki keterbatasan fisik untuk mengikuti pembelajaran dan memperoleh hasil belajar yang optimal.
Menurut Rizki Zainal Mustofa, perkembangan dunia olahraga saat ini juga memengaruhi cara masyarakat memandang mata pelajaran PJOK. Kehadiran cabang olahraga seperti catur hingga esports menunjukkan bahwa olahraga tidak selalu identik dengan kekuatan fisik, melainkan juga membutuhkan kemampuan berpikir, konsentrasi, strategi, dan kerja sama.
“Sekarang ada catur, bahkan ada esports. Jadi olahraga tidak harus selalu mengandalkan fisik, tetapi juga kemampuan berpikir dan strategi,” Ujar “Rizki Zainal Mustofa”
Perkembangan teknologi juga menjadi faktor yang mendorong perubahan pembelajaran PJOK. Saat ini berbagai media digital mulai dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar, seperti video pembelajaran, aplikasi kebugaran, hingga analisis gerakan olahraga. Pemanfaatan teknologi tersebut membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami oleh peserta didik sehingga mereka dapat belajar tidak hanya di lapangan, tetapi juga melalui media digital.
Di sisi lain, guru memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Pembelajaran PJOK tidak cukup hanya mengajarkan teknik olahraga, tetapi juga harus mampu membangun motivasi siswa agar gemar beraktivitas fisik serta menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan yang kreatif dan menyenangkan, guru dapat menumbuhkan minat siswa terhadap olahraga sejak usia dini.
Transformasi pembelajaran PJOK menunjukkan bahwa pendidikan olahraga telah berkembang menjadi bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik. Mata pelajaran ini tidak lagi sekadar mengajarkan cara bermain olahraga, tetapi juga membangun sikap disiplin, tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, serta kemampuan menghargai perbedaan. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta didik dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Dengan perubahan tersebut, pembelajaran PJOK diharapkan mampu melahirkan generasi yang sehat secara jasmani, kuat secara mental, memiliki karakter yang baik, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kurikulum Merdeka menjadi langkah nyata dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih adil, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan potensi setiap peserta didik, sehingga pendidikan olahraga tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran pelengkap, melainkan sebagai bagian penting dalam membentuk sumber daya manusia Indonesia yang unggul.


